Layung Farm Pejuang Ketahanan Pangan

Sendawar, Warta Kubar.co

Situasi dunia tengah dilanda pandemi covid-19 yang tak kunjung usai malah semakin mengkhawatirkan karena telah menimbulkan ribuan korban yang berjatuhan. Virus mematikan asal Wuhan negeri Cina ini pun mampu meluluh lantakkan setiap sendi kehidupan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Tak hanya geliat ekonomi, Ketahanan Pangan pun menjadi sebuah ancaman. Upaya mengatasinya Presiden Jokowi pun mengajak masyarakat untuk menggalakan sektor pertanian dan peternakan. Terbukti ada proyek besar ketahanan pangan yang di kerjakan di Provinsi Kalimantan Tengah.

Agus Herawan seorang pria muda asal kampung Ongko Asa, Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat telah menggeluti usaha bidang pertanian dan peternakan yang diberi label Layung Farm menarik perhatian media ini untuk diwawancarai disela-sela kesibukannya pada, Jumat (12/2/2021).

Agus Herawan pria muda lulusan Universitas Advent Bandung Fakultas Ekonomi kepada media ini mengatakan bahwa bisnis pertanian modern merupakan sebuah usaha yang tidak tergoyahkan dalam kondisi ekonomi apapun.

Menurutnya, Nilai bisnis pertanian sangat  besar, sejalan dengan nilai perdagangan unggas tahun 2012 mencapai 160 triliun, didalamnya termasuk pakan, dimana lebih dari 50 persen merupakan hasil pertanian.

Lanjutnya menuturkan secara khusus di kabupaten Kutai Barat masih banyak kebutuhan pokok yang merupakan hasil pertanian dengan nilai puluhan miliar didatangkan dari luar daerah seperti beras, kacang hijau, kedelai, gula tebu dll, Sedangkan Kubar sendiri memiliki lahan yang luas dan subur untuk produksi hasil pertanian tersebut.

“Pertanian seperti sawit, karet, kakao dll sudah cukup bagus menjadi sumber penghasilan masyarakat Kubar umumnya,” kata Agus Herawan.

Namun diakuinya bahwa siklus putaran uang di Kubar masih belum merata, dimana hasil panen karet, sawit dll apabila dibelanjakan produk dari luar seperti telur, beras dll, maka putaran uangnya akan keluar Kubar. Tidak ada yang salah dengan hal itu, namun ada baiknya apabila masyarakat Kubar dapat memproduksi sendiri kebutuhan pokok hasil pertanian tersebut, sehingga putaran uang kembali masuk di Kubar bahkan dapat menciptakan lapangan kerja lebih luas, ucapnya.

Saat ditanya soal tantangan yang dihadapi menjalani pertanian modern di Kubar, dirinya mengungkapkan bahwa tantangan utama adalah Sumber Daya Manusia (SDM), dimana mayoritas masyarakat terbiasa dengan pertanian tanaman keras, sehingga untuk pertanian holtikultura dibutuhkan contoh dan bukti nyata seperti yang sekarang ini sedang digalakkan oleh Layung Farm, ungkapnya.

“Tentu pemerintah daerah juga harus berperan aktif untuk mendukung pertanian masyarakat Kubar, contohnya dengan memberikan bantuan alat pertanian yang modern,” bebernya.

Lebih jauh Agus Herawan menceritakan bahwa dirinya pernah berkunjung ke UPT Empas, ada beberapa traktor roda empat yang rusak, namun masih bisa diperbaiki, ada juga traktor besar yang masih bagus, sebaiknya dapat dimanfaatkan untuk masyarakat yang mau mengolah lahan pertanian. Menurut dia dimana ada alat pertanian milik pemerintah yang tidak terpakai, sebaiknya dapat digunakan masyarakat agar produktif.

Dalam perbincangan melalui pesan WhatsApp ini, Herman juga menerangkan bahwa hingga saat ini Layung Farm yang didirikannya belum mendapatkan dukungan pemerintah daerah melalui instansi terkait secara resmi, namun saya punya keyakinan serta percaya bahwa pemerintah pasti mendukung kegiatan warga yang bertujuan memajukan masyarakat Kubar, terangnya.

Pria yang juga sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Kutai Barat ini berpandangan bahwa apabila ada perwakilan petani yang duduk di Legislatif, maka aspirasi dari kalangan petani dapat bergema dan didengar oleh Eksekutif.

Sampai saat ini Layung Farm belum ada hasil yang signifikan, Karena baru berjalan kira-kira dua tahun sejak pembukaan lahan. Namun untuk lahan-lahan yang sudah dibuka satu tahun sebelumnya mampu menghasilkan empat kali tanam jagung dalam satu tahun.

Dengan hasil panen terakhir mencapai tiga ton per hektar jagung pipil kering. Hasil kurang maksimal disebabkan jarak tanam yang terlalu renggang, solusinya alat tanam sudah kami modifikasi dan optimis kedepan dapat panen delapan ton per hektar jagung pipil kering, dengan nilai jual Rp.4000/kg.

“Saya sebagai founder Layung Farm mengajak kalangan muda, orang tua dan seluruh masyarakat Kubar untuk bahu membahu memajukan Kubar salah satunya dalam bidang pertanian, ” ajaknya.

Di penghujung wawancara, Dia memberikan tips pertanian modern dengan kembali menghidupkan semangat gotong royong, sebagai adat tradisi leluhur, anak muda buat kelompok sendiri dengan jumlah 5 sampai 10 orang membuka lahan 1 hektar, Kemudian kerjakan hingga berhasil. Estimasi pendapatan 1 hektar panen jagung itu 5000 kg X Rp. 4000 menghasilkan Rp.20 juta. Bisa dibayangkan kalau satu kelompok anak muda mampu membuka 10 hektar lahan pertanian, artinya mereka dapat menghasilkan Rp.200 juta dalam waktu sekitar 4 bulan.

“Saya mewakili Layung Farm, siap membimbing, membina dan kerjasama dengan mereka yang mau maju. Karena percuma TERIAK kalau GAK GERAK,” tutup Agus Herawan.

# hen #

 

 

 

 

 

 

 

Comments

comments

About Author

Founder & Jurnalis di wartakubar.com

Leave A Reply